The Chronicles of The Demon Faction
Chapter 1
Cerita dimulai dengan adegan pengejaran Chun Hajin, seorang pembunuh bayaran legendaris berjuluk "Assassin King". yang sedang dikejar oleh kelompok besar dari Aliansi Righteous Heavenly, organisasi yang selama ini menjadikannya alat pembunuh.
Para pengejar memojokkan Chun Hajin, dan meremehkannya. namun Chun Hajin tetap tenang menghadapi semua serangan yang diarahkan padanya, dan terus menebas semua musuh, dia bahkan tak ingat sudah berapa nyawa yang ia tebas selama pelarian.
Chun Hajin yang tak pernah memiliki kebebasan selama 30 tahun, meluapkan amarahnya dengan menghabisi semua orang yang mengejarnya.
Para pasukan pengejar merasa putus asa, menyadari yang ada dihadapannya adalah salah satu dari 10 besar ahli bela diri terkuat dan assasin terbaik di dunia.
Meski kelelahan, Hajin tetap bertahan. Ia dikejar oleh elite dari berbagai faksi, pasukan yang datang silih berganti tak membuat chun hajin gentar, ia dengan dengan semua tenaga yang tersisa menghabisi semua orang.
chun hajin sudah mulai kehabisan tenaga, sambil terseok seok dengan pedangnya yang sudah tumpul dan tubuh yang penuh luka, chun hajin tetap berjuang agar bisa selamat. dia sudah hidup sebagai anjing dari aliansi rightheous heavenly seumur hidupnya. setelah ajkhirnya dia berhasil memototng tali pengekang yang mengikatnya, dia terus berjuang dan berlari.
akhirnya tinggal sedikit lagi, ada sebuah tempat rahasia, dia berencana mengonsumsi elixr dan obat disana untuk memulihkan diri lalu dia akhirnya dia akan bebas. tetapi chun hajun terjatuh dan tersungkur karena rasa lapar, dia hanya makan beberapa potong dendeng dalam 7 hari.
lalu tiba tiba muncul sosok misterius yang langsung menyerangnya. chun hajun cukup kaget karena dia yang merupakan assassin terbaik tidak menyadari kehadiran sosok tersebut.
akhirnya dia sadar ketika sosok tersebut mengeluarkan seni beladiri yang mampu memotong hutan hanya dengan sword aura, seorang assasin terkuat di pusat dataran selatan.
chun hajun pun tak menyangka banwa para elite steel king dari benteng steel blod akan ikut campur.
meskipun kelelahan chun hajun masih memiliki kekuatan yang luar biasa ia tak gentar dan akan memotong-motong nya meskipun dia kelelahan. chun hajun memberikan serangan telak dan memenangkan pertarungan tersebut.
namun situasi belum tenang, chun hajun menyadari kehadiran sosok lain, dan menyuruhnya keluar. sosok tersebut adalah secret demon queen sosok yang tidak asing yang sudah ia kenal sejak 6 tahun yang lalu.
di kejauhan rombongan tetua pertama berusaha menyusul pengejaran chun hajin, ia melihat tumpukan mayat pasukannya dan pasukan benteng steel blood, ia tak menyangka bahwa chun hajun dapat lolos dari formasi tidak terhindarkan yang sudah mereka buat.
Chapter 2
kembali ke chun hajun yang bertemu dangan Secret Demon Queen, Kwak Sokyo. Wanita itu, meski tampak muda karena teknik peremajaan, sesungguhnya telah berusia 60 tahun.dilihat dari wajahnya ia tampak seperti orang yang tidak akan bisa membunuh serangga tapi nyatanya Ia adalah pembuhun sadis yang tak bisa tidur satu malam pun tanpa mencabut nyawa.
Chun hajin makin tidak menyangka bahwa pengejarannya sampai melibatkan si secret demon queen.
Ia menebak dengan benar bahwa Chun Hajin telah mempelajari seni bela diri rahasia dari 9 Sekte Besar, Chun Hajin sadar bahwa semua obrolan ini hanyalah taktik untuk mengulur waktu dan menggali informasi.
Ia memuji kecerdikan sang Ratu yang ternyata lebih dari sekadar pembunuh tanpa otak. Ia bahkan dengan tepat menduga bahwa sang Ratu tidak berniat memenuhi permintaan Benteng Steel Blood. Dengan senyum licik, sang Ratu mengakui semuanya. Ia tidak peduli pada Benteng Steel Blood ataupun rahasia Aliansi; yang ia inginkan hanyalah 'Seni Bela Diri 9 Sekte'. Sebagai gantinya, ia menawarkan untuk membiarkan Chun Hajin hidup.
Chun Hajin tertawa getir, menolak tawaran itu karena ia merasa sudah di ambang kematian. Ketika sang Ratu menebak penyebabnya adalah 'Blood Parasite'—kutukan bagi para pengkhianat Aliansi—ia segera membuat tawaran baru. Dengan keahliannya dalam Demonic Arts of the God of Death, ia berjanji bisa menyembuhkan Chun Hajin dari parasit itu dan memberinya kebebasan.
Namun, Chun Hajin membalikkan keadaan dengan sebuah pengakuan mengejutkan. Alasan Aliansi memburunya bukan hanya karena ia melarikan diri. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah menemukan cara untuk mengeluarkan Blood Parasite sejak lima tahun lalu, namun butuh waktu untuk berlatih agar bisa lolos dari kejaran mereka.
Dengan amarah yang meluap, ia menolak mentah-mentah semua tawaran sang Ratu. "Tiga puluh tahun hidupku telah dirampas oleh para bajingan itu!" teriaknya. "Aku tidak akan dibodohi oleh siapapun lagi! Enyahlah dari pandanganku!"
Tiba-tiba, sebuah kehadiran yang luar biasa kuat dirasakan di dekat mereka. Sosok yang dikenal sebagai "Tetua Pertama" telah tiba tanpa disadari.
Namun, semua sudah terlambat bagi Chun Hajin. Saat serangan fatal mengenainya, kesadarannya mulai memudar. Penyesalan yang mendalam menyelimutinya—ia hanya ingin hidup normal seperti manusia biasa. Dalam napas terakhirnya, sebuah harapan membara di dalam jiwa. Jika aku... mendapat kesempatan lagi...!
Seolah doanya terjawab, kesadarannya terbuka kembali di sebuah tempat yang familier namun terasa asing: Persemayaman Utama Sekte Heavenly Demon Divine. Kesempatan kedua telah dimulai.
Chapter 3
Adegan berpindah ke jantung Heavenly Demon Divine Cult, sebuah tempat perlindungan yang megah dengan lorong-lorong yang bergema oleh suara fanatik para pemujanya. Di antara gema tersebut terdengar seruan penuh pengabdian akan ajaran suci yang tak boleh dipertanyakan, menegaskan bahwa semua iblis harus berlutut di bawah kaki kekuatan tertinggi.
Di tengah atmosfer khidmat itu, seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Muda Keempat berdiri dengan tatapan dingin. Para pengikut bersujud dengan hormat di hadapannya. Namun, di balik wajah datarnya, pikirannya tengah menyusun rencana kejam. Ia merasa segalanya berjalan lebih baik dari yang ia perkirakan. Dalam hati, ia mengukuhkan tekadnya—malam ini akan ada yang mati.
Sementara itu, kesadaran Chun Hajin yang baru terbentuk ditarik kembali ke pusaran ingatan masa lalu. Ia kembali menjadi seorang pembunuh, berdiri di tengah tumpukan mayat bersama seorang rekan. Sang rekan memastikan bahwa tugas mereka telah selesai, dan Hajin mengangguk—semua target di bagiannya telah dibunuh.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak, meskipun rekan Hajin mengingatkan bahwa Ketua melarang mereka untuk terdeteksi. Dalam waktu senggang itu, Hajin mengeluarkan sebuah ukiran burung kecil dari kayu yang baru saja ia buat. Rekannya memandangnya dengan ekspresi sedih, lalu bertanya apakah Hajin tidak merasa lelah menjalani kehidupan sebagai pembunuh.
Dengan tatapan menerawang, Hajin menyampaikan keinginannya. Ia bertekad untuk keluar dari kehidupan itu, bagaimanapun caranya. Ia ingin hidup bebas seperti burung kecil itu—meninggalkan darah dan kekerasan, dan pergi ke pedesaan untuk merasakan aroma tanaman hijau, bukan bau anyir darah.
Mimpi itu membangkitkan harapan dalam diri rekannya. Ia pun menyatakan keinginannya untuk ikut bersama Hajin. Namun Hajin menolak dengan tegas, mengetahui risiko besar dari keinginan itu. Meski begitu, rekannya tetap memohon agar mereka bisa pergi bersama-sama.
Kehangatan momen itu seketika berubah menjadi mimpi buruk saat bayangan Ketua Aliansi muncul. Sosok kejam itu mengingatkan bahwa ia telah menyelamatkan nyawa mereka, dan menyebut keinginan untuk melarikan diri sebagai bentuk pengkhianatan terhadap belas kasihnya. Ia menunjuk langsung ke rekan Hajin, memperingatkan bahwa Blood Parasite dalam tubuh sang rekan akan menjadi alat penghukuman.
Dalam sekejap, tubuh rekan Hajin hancur dari dalam. Sang Ketua kemudian menatap Hajin, menyatakan bahwa kepalanya pun harus dipisahkan agar tak bisa membocorkan apa pun.
Hajin terbangun dengan sentakan kuat, napas terengah dan keringat dingin membasahi dahinya. Ia sempat bertanya-tanya apakah semua itu hanyalah mimpi, namun kenangan akan kematian oleh tangan Ratu Iblis masih begitu nyata dalam benaknya.
Ia menatap sekeliling dan mendapati dirinya berada di sebuah kamar luar biasa mewah—kontras total dengan kehidupan keras yang biasa ia jalani. Kebingungan melanda pikirannya, hingga naluri pembunuhnya merasakan kehadiran orang lain.
Dengan cepat, ia melompat dan meraih sumpit dari meja, lalu menodongkannya ke leher seorang pelayan yang baru masuk. Tanpa memberi kesempatan bicara, ia menuntut penjelasan tentang siapa yang membawanya ke tempat itu.
Pelayan itu gemetar ketakutan, menjelaskan bahwa ia tidak dibawa siapa pun ke sana. Tuan Muda, sebutnya, sudah berada di tempat itu sejak lama, tak sadarkan diri selama enam bulan terakhir akibat penyumbatan Qi. Baru dua malam lalu ia terbangun.
Hajin tidak percaya dengan penjelasan itu, membentak dan menuntut kejujuran. Namun pelayan itu tetap bersikeras bahwa semua itu benar adanya.
Tatapan Hajin lalu tertuju pada cermin perunggu di sudut ruangan. Ia melangkah mendekat dan terkejut saat melihat pantulan yang bukan miliknya. Yang ia lihat adalah wajah pemuda asing, tampan namun tampak lemah.
Kesadaran menghempas dirinya—ini bukan mimpi. Maka pertanyaan pun bermunculan dalam benaknya. Apakah ini reinkarnasi? Atau kehidupannya yang sebelumnya? Bagaimana semua ini bisa terjadi?
Pintu kamar terbuka sebelum ia sempat menyusun pikirannya. Beberapa penjaga istana dan seorang tabib masuk, langsung bersujud dengan hormat. Pemimpin mereka menyatakan bahwa ajaran suci tetap tak terbantahkan, dan mengucapkan selamat atas kesembuhannya, menyapanya sebagai Tuan Muda Ketiga.
Hajin terdiam, terkejut dengan informasi yang baru saja ia terima. Ajaran Suci. Tuan Muda Ketiga. Potongan-potongan informasi itu menyatu membentuk kenyataan mengerikan. Jika ini adalah dunia Murim dan tempat ini adalah Divine Cult... maka ia kini berada di dalam sekte iblis, Heavenly Demon Divine Cult.
Adegan berpindah ke Singgasana Demon Lord. Seorang pria berarmor megah bersujud di hadapan sosok agung yang duduk di atas takhta.
Dengan penuh hormat, pria itu memperkenalkan dirinya sebagai Moodam, Penjaga Istana Pertama dari Divine Cult, dan menyampaikan laporan penting: Tuan Muda Ketiga telah terbangun.
Demon Lord menatapnya tanpa ekspresi, mempertanyakan kabar tersebut. Moodam membenarkan, namun menambahkan bahwa sang Tuan Muda telah kehilangan semua keahlian bela dirinya. Ia menunggu perintah.
Setelah hening sejenak, Demon Lord memberikan perintah dengan suara dingin yang menggema di seluruh ruangan. Ia menyuruh Moodam untuk tidak memberikan laporan apa pun lagi hingga upacara penutupan dalam tiga bulan.
Moodam menunduk lebih dalam, menyampaikan harapan tulusnya agar sang Demon Lord dapat mencapai hal besar yang telah ditakdirkan.
Chapter 4
Heavenly Demon Divine Cult—dikenal juga sebagai Demonic Cult—adalah kekuatan iblis tertua dan paling ditakuti di generasi ini. Sekte ini didirikan ribuan tahun lalu oleh seorang master Murim dan sejak saat itu, keberadaannya menjadi simbol kekacauan yang membuat seluruh dunia Murim gelisah. Dalam hal kekuatan bela diri maupun jumlah anggota, sekte ini sebanding dengan dua kekuatan besar lainnya: Federasi dari Aliansi Righteous Heavenly dan Benteng Steel Blood. Ketiganya dikenal sebagai Triad yang Kuat—Righteous Heaven, Steel Blood, dan Heavenly Demon—namun dari ketiganya, Demonic Cult dianggap sebagai ancaman tertinggi, bahkan melebihi perang atau pandemi.
Di tengah kesadaran barunya, Chun Hajin mencoba memahami apa yang terjadi. Ia mulai menyadari bahwa dirinya terbangun di tempat yang sama sekali asing dan penuh bahaya. Tak habis pikir, ia bertanya-tanya dalam hati—bagaimana mungkin ia bisa terbangun di dalam Demonic Cult? Apakah ini kehidupan keduanya? Dan mengapa harus di tempat ini?
Namun ia segera memaksa dirinya untuk tetap tenang. Ia sadar bahwa memahami situasi saat ini adalah kunci untuk bisa bertahan hidup. Kemarin malam, Hajin menyelinap dalam bayang-bayang, mengamati dengan teknik penyamaran yang dahulu ia kuasai. Sayangnya, teknik itu terasa terlalu berat bagi tubuh barunya yang lemah.
Dari balik gelap, ia mendengar percakapan dua penjaga. Mereka membicarakan Tuan Muda Ketiga—julukan baru yang kini ia sandang. Menurut mereka, setelah enam bulan tak sadarkan diri akibat penyumbatan Qi, kebangkitannya merupakan keajaiban. Meski dikabarkan telah kehilangan semua keahlian bela dirinya, julukan "Demon yang Mengerikan" tetap melekat karena reputasinya yang kelam. Penjaga itu mengingatkan satu sama lain untuk tidak gegabah mendekat, agar tidak menimbulkan kemarahan sang Tuan Muda Ketiga.
Hajin mendengus dalam hati. Ia mengutuk pemilik lama tubuh ini—sosok yang dikenal kejam dan sembrono, seorang pembuat onar yang telah menciptakan reputasi buruk hingga membuat orang gemetar mendengar namanya.
Kembali ke masa kini, Hajin duduk diam, merenungkan keadaannya. Ia yakin bahwa tempat ini benar-benar adalah Demonic Cult, dan jika ia ingin keluar, ia harus memiliki rencana matang. Sayangnya, tubuh barunya tak ubahnya seperti milik kakek tua—lemah dan rusak. Meski begitu, ia berniat memulihkannya.
Dengan penuh tekad, ia mulai menyalurkan energi dalam tubuhnya menggunakan Teknik Tanpa Batas, sebuah seni bela diri yang ia ciptakan sendiri dalam kehidupan sebelumnya dengan menggabungkan teknik dari sembilan sekte. Baginya, seni ini adalah satu-satunya harapan. Ia merasakan tubuhnya memanas, udara menjadi lembap, dan energi keruh dalam tubuh mulai dikeluarkan.
Ia menyadari bahwa selama tiga bulan terakhir, ia telah berlatih keras. Hasilnya mulai terlihat—energi keruh dan sisa kekuatan demonic dalam tubuh mulai menghilang. Meskipun perlahan, tubuh ini mulai merespons usahanya.
Dalam keheningan itu, Hajin mengeluh pada dirinya sendiri. Sudah cukup lama sejak ia bangun, tapi tak ada seorang pun yang menjenguknya selain tabib dan seorang pelayan muda yang selalu tampak ketakutan saat mengantar obat.
Ia teringat akan percakapan sebelumnya dengan sang tabib, yang menyatakan bahwa tingkat pemulihannya cukup cepat, dan memintanya menjaga kondisi tubuhnya. Begitu pula dengan pelayan muda yang gemetar saat menyerahkan obat herbal, seakan takut padanya—refleksi dari reputasi mengerikan pemilik lama tubuh ini.
Tiga bulan pun berlalu.
Di tempat lain, Tuan Muda Keempat, Hong Euimoon, berbincang dengan seorang pengawalnya. Ia mempertanyakan efek dari racun yang telah diberikan kepada Tuan Muda Ketiga. Menurut pengawalnya, racun itu seharusnya bekerja lebih cepat jika kekuatan bela dirinya masih tersisa. Namun, justru sebaliknya—pemulihan sang target justru berlangsung lebih cepat, sesuatu yang membuat mereka kebingungan.
Hong Euimoon menganggap ini menarik. Ia merasa bahwa sesuatu yang tak terduga akan segera terjadi. Ia memerintahkan agar target terus diamati, sambil menanti kedatangan seseorang bernama Rin yang dijadwalkan tiba di kuil utama sekitar siang hari.
Sementara itu, Hajin terus berlatih keras. Ia akhirnya merasa tubuhnya jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Tiga bulan penuh kerja kerasnya membuahkan hasil—energi kotor telah sirna, dan tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan aliran Qi yang stabil.
Saat sedang menikmati sedikit ketenangan, seorang pelayan datang membawa obat herbal. Hajin menerimanya dengan ramah, tapi pikirannya segera dibanjiri oleh kenangan mengerikan dari masa lalunya. Suara Ketua Aliansi Righteous Heavenly bergema di benaknya—kemarahan, pengkhianatan, dan ancaman hukuman abadi. Kata-kata itu menusuk kesadarannya, dan sejenak ia merasa dikuasai kembali oleh trauma akan Blood Parasite.
Pelayan yang melihat wajah Hajin memucat bertanya dengan cemas apakah ia baik-baik saja. Hajin menjawab singkat bahwa itu hanyalah halusinasi, dan membiarkan pelayan itu pergi. Ia kembali termenung, mempertanyakan apakah hidup baru yang ia impikan bisa benar-benar terwujud. Apakah ia bisa bebas?
Dari luar ruangan, suara-suara mulai terdengar. Seseorang bertanya apakah sang Tuan Muda berada di dalam. Pelayan yang tadi keluar tampak ragu menjawab, namun suara kasar menyuruhnya menyingkir. Suara tamparan pun terdengar, membuat Hajin menoleh tajam.
Seorang wanita muncul di ambang pintu. Di belakangnya, pelayan muda itu memegangi pipinya yang memerah. Hajin menatap perempuan itu dengan tidak senang, bingung sekaligus waspada akan siapa dirinya.
Wanita itu menatap Hajin dan berkata bahwa sudah lama mereka tidak bertemu.
Hajin menyipitkan mata, hatinya penuh pertanyaan. Siapa sebenarnya wanita ini?
Chapter 5
Hajin terkejut saat melihat sosok wanita misterius itu. Dia nggak tahu siapa dia, tapi jelas-jelas orang itu bukan orang biasa. Wajahnya cantik, tapi tatapannya tajam, penuh percaya diri. Hajin langsung merasa ada yang nggak beres. Dalam hati, dia panik dan buru-buru mencari cara buat keluar dari situasi aneh ini.
Wanita itu dengan santainya menyuruh Hajin duduk dan bilang ingin minum teh. Ketika Hajin mencoba kabur, dua penjaga besar langsung muncul dan menghalangi jalannya. Jelas dia nggak bisa lari begitu aja.
Perempuan itu bilang kalau dia ingin ngobrol dengan Hajin, dan nyuruh para penjaga buat jaga pintu dan jangan biarkan siapapun masuk. Hajin sadar dia nggak punya pilihan, jadi dia bilang mau ganti pakaian dulu dan memanggil pelayannya, Anghwa, untuk ikut bersamanya ke ruangan lain.
Begitu di dalam, Hajin langsung tanya soal wanita tadi. Dia berpura-pura bilang kalau setelah sembuh dari penyumbatan Qi, kepalanya sering sakit dan dia agak lupa-lupa ingat. Anghwa, walau agak kaget, menjelaskan bahwa wanita itu adalah Hong Yeorin—seorang demon kuat dari keluarga Jeoksa yang punya hubungan erat dengan Sekte Demon. Dia juga dikenal sebagai murid berbakat dan diakui langsung oleh Ketua Sekte Demon. Dan ya, dia adalah adik dari Tuan Muda Keempat. Ternyata, Hajin dan Yeorin cukup sering bertemu sebelumnya, jadi hubungan mereka memang dekat.
Hajin mulai merasa bahwa situasinya makin rumit. Dia mengucapkan terima kasih ke Anghwa dan sempat menunjukkan perhatian pada wajah Anghwa yang masih lebam karena ditampar Yeorin. Anghwa kaget, tapi juga terharu dengan sikap Hajin yang berbeda dari biasanya.
Setelah ganti baju, Hajin kembali ke ruangan Yeorin. Kali ini, dia bersikap lebih tenang dan sopan, lalu bertanya alasan kedatangan Yeorin. Tapi Yeorin malah langsung buka topik soal kontrak yang katanya pernah mereka buat. Dia bilang kalau kontrak itu menyebutkan bahwa kalau salah satu pihak membatalkan kesepakatan, maka hukumannya jadi tiga kali lipat. Dia juga bilang kalau sudah menginvestasikan banyak uang dan obat ke Hajin, dan sekarang ingin semuanya dikembalikan.
Total uang yang diminta? Enam ribu nyang. Jumlah yang gila. Tapi Hajin nggak panik. Dia langsung bilang oke dan minta Anghwa ambil alat tulis buat bikin kontrak baru. Yeorin sempat bingung karena Hajin begitu gampang nurut, padahal biasanya dia nggak sebodoh itu. Jadi dia tambahin satu syarat lagi: kalau Hajin nggak bisa bayar, maka dia harus datang setiap kali dipanggil, kayak anjing peliharaan.
Hajin yang dengar itu tentu aja kesal. Tapi dia tetap pura-pura tenang. Dalam hati, dia udah punya rencana. Begitu kontrak selesai ditulis, dia langsung minta Anghwa panggil Komandan Penjaga Istana.
Komandan datang dan langsung hormat. Hajin lalu minta kereta disiapkan karena dia ingin pergi ke Istana Demon Lord. Dia bilang ingin menemui gurunya dan menyampaikan sesuatu yang penting.
Yeorin langsung panik. Dia mulai sadar kalau Hajin serius. Dia tanya, apa Hajin benar-benar mau ketemu Demon Lord dan bilang soal kontrak itu. Hajin bilang, ya, kalau memang harus begitu, dia siap. Walaupun bisa jadi dia dibuang karena sekarang udah nggak punya kemampuan bela diri, tapi untuk Yeorin, risikonya lebih besar. Nama keluarganya bisa hancur, dan dia sendiri bisa dipenjara.
Yeorin makin gugup. Dia akhirnya tanya, apa yang harus dia lakukan supaya Hajin nggak pergi ke sana. Hajin menatapnya datar dan bilang, cukup satu hal: robek kontraknya... pakai tanganmu sendiri.
No comments:
Post a Comment